Apa Ini Benar-Benar Kita?

Edit

apa ini benar-benar kita, manusia?..

by Gita Dala on Tuesday, August 3, 2010 at 7:29pmTerkadang saya berpikir.
bagaimana kalo manusia hidup tidak dalam sebuah keluarga.
bagaimana kalo saya benar-benar hidup sendirian tanpa seorang pun yang punya kaitan dengan saya.
apakah saya akan selamat? apakah saya masih tetap akan hidup?
saya kira kita semua sendirian. tak peduli seberapa besar keluarga yang saya miliki. tak peduli seberapa banyak kenalan kita. tak peduli seberapa luas pengaruh kita terhadap dunia.

tapi nyatanya manusia hidup berkelompok.
ini kelompokku. ini keluargaku. maka aku hanya akan memperdulikan mereka. toh manusia-manusia lain juga akan bersikap seperti saya. masing-masing hanya akan memperdulikan kelompok mereka.

dan bagaimana dengan mereka yang tidak punya kelompok. tidak punya keluarga. tidak punya status apa-apa, bahkan sebagai warga negara pun mereka tidak tercatat.
bagaimana nasib mereka?
seperti ini salah satunya.
mati sendirian.
benar-benar sendirian.
come on people.. this is not us..

————————————————————————————————————————
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).

Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.

Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu.


Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.





Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.

Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.


Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.


Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.

untuk sementara. saya hanya bisa melakukan satu hal : menangisi kita.
3 Agustus 2010

Gathering the Bests

Orang Indonesia ini benar-benar total..

Bahkan total dalam membenci seseorang.

Ketika masa pergantian Pemimpin dimulai, dan hawa persaingan semakin pekat tercium..

Bahkan aku, yang notabene buta politik bisa merasakan

Bahwa kita tidak sedang mencari solusi. Melainkan bersaing menjadi yang paling benar.

Setidaknya menjadi yang paling terlihat benar.

Lihatlah enam pemimpin kita.

Ketika beliau lengser dan tergantikan oleh yang selanjutnya.

Selalu yang dibahas adalah kesalahan-kesalahan beliau yang dijanjikan tak akan terulang lagi.

Kita selalu senang mendengar kata ‘revolusi besar’, ‘perubahan total’, dan hal lain yang bernada sama.

Inilah letak ketotalan kita.

Pemimpin yang sebelumnya kita anggap lembar hitam yang hanya patut dikubur begitu saja.

Dan memulai segala sesuatu yang baru. Dari nol.

Menurutku, tidak semua yang baru itu lebih baik.

Indonesia sudah terlalu tua untuk memulai segala sesuatu yang baru.

Layaknya pesawat, kita masih berputar-putar di bawah.

Ketika berganti pemimpin, ganti landasan pacu.

Entah kapan akan benar-benar lepas landas.

Tidak bisakah kita memisahkan apa yang patut kita buang dan kita contoh.

Masa sih, pemimpin kita yang terdahulu itu tidak membawa sesuatu yang baik sama sekali?

Segagal-gagalnya kerja beliau, masa tidak ada sumbangsih yang bisa kita lanjutkan?

Program beliau semua tampak salah ketika ada pembaru yang muncul.

Kita mulai segala dari awal yang baik.

Tidak payahkah Indonesia memulai dari nol terus?

Politik memang seni untuk mempengaruhi orang.

Bagaimana seseorang bisa meyakinkan bahwa dirinyalah yang terbaik untuk masyarakat.

Tapi ada satu yang sepenuhnya berada di bawah kontrol kita.

Tak bisa dipengaruhi suatu apapun tanpa seijin kita.

Hal itu adalah hati nurani.

Berhentilah mencari individu terbaik.

Mulailah mencari solusi bersama.

Berhentilah berusaha menjadi yang terbaik.

Mulailah menjadi pencari kebaikan.

*Ya Allah, tulisanku ini yang paling geje.. T_T semoga bisa ditangkap maksudnya.

Maklum, bukan orang yang sering memikirkan negara.

3 September 2010

What the WAD

Acara WAD kali ini benar-benar mengajariku banyak hal.. :)

Pertama.. kerja keras. Kalau itu nothing special.. aku sudah mengikuti beberapa kepanitiaan sebelumnya dan pelajaran tentang kerja keras dan loyalitas telah kupetik sebelum-sebelumnya.

Kedua.. menyatukan banyak pihak dan tidak menjadi egois. Ini kali kedua (kalo ngga salah) Pengmas bekerjasama dengan CIMSA, namun kali pertama bagiku untuk ambil bagian dari penggabungan ini.

Bayangkan, dua proker, dua tujuan, dua rencana disatukan. Hal tersebut bisa terjadi karena diantara banyak perbedaan kita punya satu tujuan yang sama, dan bereslah semuanya. :)

Meski pasti ada konflik antar sesama panitia juga konflik sama batin sendiri.. hahahaha

Mengajariku bagaimana bereaksi terhadap suatu hambatan. Bahwa sebaiknya reaksi pertama yang dilakukan adalah menyelesaikannya bersama, bukan mempermasalahkan ini salah siapa.

Mengajariku bagaimana jika kita telah diikat dalam satu kepanitiaan, tidak ada lagi CIMSA dan Pengmas. Melainkan Panitia WAD FK UNAIR. Menjauhkan pikiran untuk menonjolkan organisasinya, tapi menonjolkan proker bersama.

Mengajariku ikhlas.

Mengajariku seni berteman. Seni memimpin. Seni bekerjasama..

Lalu saat Seminar berlangsung..

Semua narasumber benar-benar mengajariku banyak hal.

Dapat ilmu pengetahuan tentang virus HIV AIDS dan gejala pada penderitanya dari Prof Nasron (maaf ngga hapal gelarnya..)

Dan dr. Narni, I’ve been her fan since first semester :)

Beliau benar-benar inspiratif bagiku. Bahkan terkadang apa yang beliau ucapkan adalah apa yang telah lama kupikirkan. Dan kukira kami punya cara pandang yang sama dalam banyak hal. I think I wanna be like her someday :) Jadi perempuan harus kuat..

Lalu Mbak Y, Mbak M, dan Mas W.. Narasumber ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS)

Mereka mengajariku banyak hal tentang hidup.

Jujur aku malu jika mendengar kisah mereka dan melihat kenyataan bahwa mereka lebih semangat menjalani hidup daripada aku.. dan mereka lebih pandai bersyukur, lebih bisa memanfaatkan umur, dan tidak mudah mengeluh ketimbang aku..

“Orang kalau sakit itu trimo aja, kalau disuruh minum obat ya diminum. Disuruh priksa sama dokter ya priksa. Harus punya kemauan buat sembuh, bukannya sakit terus menyerah dan stress.”. Kesederhanaan pemikiran Mbak Y benar-benar menginspirasi.. bahwa terkadang untuk menyelesaikan suatu cobaan, kita hanya memerlukan sikap berpasrah.. sederhana bukan?..

“Lingkungan juga mengucilkan. Bahkan mau bikin KTP ke Pak RT pun tidak dilayani.. tapi saya sabar aja..”.

Mereka bertiga adalah para relawan yang merawat penderita AIDS di RSUD Dr. Soetomo. Mulai mengajak mereka periksa, menemani konseling, membimbing cara merawat diri, hingga mengurusi pasien rawat inap.

Mengajariku tentang ketulusan.. aku yang sehat walafiat, dan sedikit lebih punya bekal pengetahuan tentang kesehatan, belum tentu mau rela merawat penderita AIDS seperti yang beliau-beliau lakukan secara sukarela. :’(

Mbak M mengajariku tentang ketulusan juga.. ia bercerita tentang bagaimana ia bisa tertular HIV. Mbak M memang penyuka sesama jenis, namun ia tidak pernah gonta-ganti pasangan. Bahkan jarang bergaul keluar rumah. Suatu saat pasangannya tersebut meninggal tanpa sebab yang jelas. Dan beberapa waktu kemudian Mbak M dinyatakan positif HIV.

Sekarang Mbak M memiliki pasangan tetap yang tidak terinfeksi HIV.

Tanpa perasaan dendam karena pasangan sebelumnya telah ‘mewariskan’ virus tersebut padanya, Mbak M berstatement,  “Saya menjaga pasangan saya agar tidak tertular. Karena dia telah menerima ODHA seperti saya apa adanya.” :)

Begitu pula dengan Mas W.. seorang mantan pengguna narkoba suntik dan kemudian terjangkit HIV AIDS. Ia menjelaskan bahwa ia memiliki istri dan anak yang sehat dan tidak tertular HIV. Ketika ditanya oleh salah satu peserta, bagaimana bisa dia punya anak dan istri yang tidak tertular HIV sedangkan ia sendiri adalah ODHA.. Mas W menjelaskan sebelum ia menikahi istrinya, dia benar-benar mengikuti semua konseling tentang bagaimana cara menjaga agar orang-orang sekitar tidak tertulari olehnya.

Kupikir, untuk hal seperti itu.. aku kalah dari segi ego, ketulusan, semangat, dan ketabahan mereka..

Semua orang bisa menjadi guru, tak peduli bagaimana ‘packaging’ status sosial mereka.

Kalian semua yang terlibat dalam acara WAD ini juga kuanggap guruku.. thanks for the lessons :D

Dan aku belajar bahwa memang benar..

Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.

Hihihi.. :P

maaf kepanjangan !

11 Desember 2010