Remidi PPKn

Tidak ada yang salah di antara kita, jika kau bertanya.

Jadi berhentilah mencari.

Karena kita hanya sekedar berbeda.

Sebenarnya bukan masalah yang besar, ya kan? :)

Ini bukan jenis perbedaan yang bisa diadu,

namun ini juga bukan jenis perbedaan yang bisa disatukan.

Demi Tuhan, ini bukan masalah harga diri atau gengsi tinggi.

Manusia punya prinsip dan keteguhan sendiri-sendiri.

Yang tanpa hal tersebut, tidaklah bisa hidup.

Sementara aku dan kamu, kita sama-sama keras kepala kelas kakap.

Teman-temanmu, dan teman-temanku..

Mereka menawarkan jalan termudah, yaitu aku tanpa kamu.

Tapi jalan termudah tidak selalu membahagiakan.

Sementara jalan yang bahagia ini mulai meletihkan.

Mungkin kita harus belajar,

sebuah teori tua tentang toleransi dan tenggang rasa.

Sebagaimana yang diajarkan sewaktu SD.

Serta belajar bersyukur atas sebuah memori

(tak peduli betapa hebat kita saling menyakiti saat ini)

Tentang hari di saat kali pertama kau menyeruak kerumunan orang,

dan menemukanku yang sedang menatap lurus,

seakan telah lama menanti kehadiranmu di ujung kerumunan,

lalu semuanya sempat menjadi indah.. :)

11 Desember 2010

What the WAD

Acara WAD kali ini benar-benar mengajariku banyak hal.. :)

Pertama.. kerja keras. Kalau itu nothing special.. aku sudah mengikuti beberapa kepanitiaan sebelumnya dan pelajaran tentang kerja keras dan loyalitas telah kupetik sebelum-sebelumnya.

Kedua.. menyatukan banyak pihak dan tidak menjadi egois. Ini kali kedua (kalo ngga salah) Pengmas bekerjasama dengan CIMSA, namun kali pertama bagiku untuk ambil bagian dari penggabungan ini.

Bayangkan, dua proker, dua tujuan, dua rencana disatukan. Hal tersebut bisa terjadi karena diantara banyak perbedaan kita punya satu tujuan yang sama, dan bereslah semuanya. :)

Meski pasti ada konflik antar sesama panitia juga konflik sama batin sendiri.. hahahaha

Mengajariku bagaimana bereaksi terhadap suatu hambatan. Bahwa sebaiknya reaksi pertama yang dilakukan adalah menyelesaikannya bersama, bukan mempermasalahkan ini salah siapa.

Mengajariku bagaimana jika kita telah diikat dalam satu kepanitiaan, tidak ada lagi CIMSA dan Pengmas. Melainkan Panitia WAD FK UNAIR. Menjauhkan pikiran untuk menonjolkan organisasinya, tapi menonjolkan proker bersama.

Mengajariku ikhlas.

Mengajariku seni berteman. Seni memimpin. Seni bekerjasama..

Lalu saat Seminar berlangsung..

Semua narasumber benar-benar mengajariku banyak hal.

Dapat ilmu pengetahuan tentang virus HIV AIDS dan gejala pada penderitanya dari Prof Nasron (maaf ngga hapal gelarnya..)

Dan dr. Narni, I’ve been her fan since first semester :)

Beliau benar-benar inspiratif bagiku. Bahkan terkadang apa yang beliau ucapkan adalah apa yang telah lama kupikirkan. Dan kukira kami punya cara pandang yang sama dalam banyak hal. I think I wanna be like her someday :) Jadi perempuan harus kuat..

Lalu Mbak Y, Mbak M, dan Mas W.. Narasumber ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS)

Mereka mengajariku banyak hal tentang hidup.

Jujur aku malu jika mendengar kisah mereka dan melihat kenyataan bahwa mereka lebih semangat menjalani hidup daripada aku.. dan mereka lebih pandai bersyukur, lebih bisa memanfaatkan umur, dan tidak mudah mengeluh ketimbang aku..

“Orang kalau sakit itu trimo aja, kalau disuruh minum obat ya diminum. Disuruh priksa sama dokter ya priksa. Harus punya kemauan buat sembuh, bukannya sakit terus menyerah dan stress.”. Kesederhanaan pemikiran Mbak Y benar-benar menginspirasi.. bahwa terkadang untuk menyelesaikan suatu cobaan, kita hanya memerlukan sikap berpasrah.. sederhana bukan?..

“Lingkungan juga mengucilkan. Bahkan mau bikin KTP ke Pak RT pun tidak dilayani.. tapi saya sabar aja..”.

Mereka bertiga adalah para relawan yang merawat penderita AIDS di RSUD Dr. Soetomo. Mulai mengajak mereka periksa, menemani konseling, membimbing cara merawat diri, hingga mengurusi pasien rawat inap.

Mengajariku tentang ketulusan.. aku yang sehat walafiat, dan sedikit lebih punya bekal pengetahuan tentang kesehatan, belum tentu mau rela merawat penderita AIDS seperti yang beliau-beliau lakukan secara sukarela. :’(

Mbak M mengajariku tentang ketulusan juga.. ia bercerita tentang bagaimana ia bisa tertular HIV. Mbak M memang penyuka sesama jenis, namun ia tidak pernah gonta-ganti pasangan. Bahkan jarang bergaul keluar rumah. Suatu saat pasangannya tersebut meninggal tanpa sebab yang jelas. Dan beberapa waktu kemudian Mbak M dinyatakan positif HIV.

Sekarang Mbak M memiliki pasangan tetap yang tidak terinfeksi HIV.

Tanpa perasaan dendam karena pasangan sebelumnya telah ‘mewariskan’ virus tersebut padanya, Mbak M berstatement,  “Saya menjaga pasangan saya agar tidak tertular. Karena dia telah menerima ODHA seperti saya apa adanya.” :)

Begitu pula dengan Mas W.. seorang mantan pengguna narkoba suntik dan kemudian terjangkit HIV AIDS. Ia menjelaskan bahwa ia memiliki istri dan anak yang sehat dan tidak tertular HIV. Ketika ditanya oleh salah satu peserta, bagaimana bisa dia punya anak dan istri yang tidak tertular HIV sedangkan ia sendiri adalah ODHA.. Mas W menjelaskan sebelum ia menikahi istrinya, dia benar-benar mengikuti semua konseling tentang bagaimana cara menjaga agar orang-orang sekitar tidak tertulari olehnya.

Kupikir, untuk hal seperti itu.. aku kalah dari segi ego, ketulusan, semangat, dan ketabahan mereka..

Semua orang bisa menjadi guru, tak peduli bagaimana ‘packaging’ status sosial mereka.

Kalian semua yang terlibat dalam acara WAD ini juga kuanggap guruku.. thanks for the lessons :D

Dan aku belajar bahwa memang benar..

Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.

Hihihi.. :P

maaf kepanjangan !

11 Desember 2010

The Art of Loving, Losing, Leaving, and Keep Living

Meninggalkan dan ditinggalkan,

Adalah hal yang sulit bagi kedua pihak,

baik yang pergi dan yang menetap.

Ada yang tidak ingin pergi namun harus.

Ada yang sebenarnya tidak ingin pergi namun bersikap seolah-olah ingin pergi.

Ada yang setelah ditinggal ingin meninggalkan juga, namun nyatanya ia kembali dan menunggu.

Bagaimanapun keadaannya, mereka semua berhadapan dengan Sang Waktu.

Ketika dia memulai ultimatum tentang jatah waktu,

Apa kita masih bisa menawar?

Aku, kamu, tidak ada yang lebih nyata daripada bayangan air di tengah jejalanan yang terik.

Tidak adil rasanya, ketika aku bersedia mempertaruhkan segala demi bersamamu,

dan aku tahu kau pun begitu,

namun nyatanya takdir tak lagi mencatat kata ‘kita’ di masa depanku dan masa depanmu.

Hey, Sang Waktu sedang berhitung mundur,

ketika kita sedang bersama dan menikmati derai tawa satu sama lain.

Dan ketika kita dirajai amarah dan berhenti mensyukuri keberadaan satu sama lain,

Hey, ternyata Sang Waktu tetap berhitung mundur!..

12 Desember 2010

Tidak Tahu Pasti Tapi Paham

Aku tidak tahu pasti, tapi aku paham.

Ketika kamu memutuskan untuk menjalani pilihan tersulit,

Sementara mereka menilai pilihanmu bisa menyakiti dirimu sendiri, tidak adil, tidak waras, bahkan mungkin akan berakhir sia-sia.

Aku sempat menjadi mereka, menyarankanmu untuk berhenti.

Lalu aku menemukan kondisi yang kurang lebih sama sepertimu..

Aku tidak tahu pasti, tapi aku paham,

Jalan yang kelihatannya termudah terkadang tidak membahagiakan.

Sedangkan kita berhak untuk bahagia, sesulit apapun caranya menggapai kebahagiaan itu.

Kamu memilih untuk menunggu. Meski kadang terasa tanpa harapan.

Aku memilih untuk pergi. Meski kadang terbersit harusnya aku menetap.

Apapun keputusan kita. Aku percaya kita akan bahagia dengannya.

Aku tidak tahu pasti, tapi aku paham..

Kita akan baik-baik saja, tak butuh celaan sok tahu dari mereka.

Selamanya, mereka tidak akan tahu rasanya menjadi aku, menjadi kamu.

Dan selama itu pulalah kita akan tetap menjalani pilihan kita masing-masing.

NB : jangan lupa isi hidupmu.

13 Desember 2010

That Genre

Saya sedang suka-sukanya film romantis ketika salah seorang teman saya akhirnya membuat saya ilfeel.

Yah sebut saja insialnya BIB. *saya nggak menyebut namamu lho ya..

Menurutnya, film yang paling gahul adalah film tentang buronan yang sembunyi di tanki berisi feses..

Kata bib,“Haduh sama ae semuanya. Mau pergi ciuman. Mulih ciuman. Makan ciuman. Ng*s*ng ciuman.” Intinya ciuman menjadi salah satu kegiatan metabolisme manusia jaman sekarang.

“gara2 drama korea yang super romantis, cewek-cewek jadi terlalu berharap ketemu cowok super romantis. Kasian juga cowok2 cupu model kamu ya..” haha. Peace bib.

Gara2 dia, saya jadi menilik ulang tontonan saya selama ini.

Baruu saja beberapa bulan ini saya mencoba menyukai film cintak-cintakan.

Dan bagus, saya tidak memungkiri bahwa saya menikmati.

Hanya saja, saya tidak mengerti apa yang terjadi dengan mereka..

Kok orang-orang dalam film itu terkesan murahan, ya?

Terkesan bodoh..

Terkesan gila..

Ada yang rela melepas harta demi kekasih.

Meninggalkan keluarga.

Bunuh diri.

Menyeberang samudera.

Menjadi orang lain selain dirinya.

Dan ini yang paling sering jadi adegan film-film barat : mempelai cewek nekat ninggalin calon suaminya di depan altar, trus lari-lari pake gaun pengantin ke rumah cowok simpanannya.

Grrrr…

Just by one kiss and everything can change.

They’re all cheap lovers, I think.

Misalnya..

Seorang cewek yang bertunangan, ketemu cowok yang tidak dia sukai. Lalu mereka ketemu, ketemu lagi, trus nggak sengaja ciuman (heran deh), trus mata mereka berkaca-kaca, mencoba untuk menyangkal perasaan, berpisah, marah2an, trus pas ceweknya udah pake gaun pengantin cowoknya nyulik ceweknya untuk kabur dari altar.

Bahkan mungkin inti cerita-cerita tersebut adalah : bertindaklah nekat dan gila demi cinta.

Nggak ngerti..

Tapi mana mungkin para sutradara bisa bikin film tanpa terinspirasi kisah nyata?

Jadi apa benar?

Apa benar cinta bisa mengakibatkanku jadi sebodoh itu nantinya?

:-/

I think, it was us, bib. Who can’t understand yet about love.

Just one or two chats with love topic, can’t change us into a genius lover.

You must have one of those stories to understand.

And then you will be free to judge.

It’s the general rule of anything, isn’t it?

Yeah.. what’s love? Sounds boring.

No.. it sounds complicated for me. But not boring, buddy! :P

*sana tonton KCB dulu! haha..

15 Desember 2010