What the WAD
Acara WAD kali ini benar-benar mengajariku banyak hal.. :)
Pertama.. kerja keras. Kalau itu nothing special.. aku sudah mengikuti beberapa kepanitiaan sebelumnya dan pelajaran tentang kerja keras dan loyalitas telah kupetik sebelum-sebelumnya.
Kedua.. menyatukan banyak pihak dan tidak menjadi egois. Ini kali kedua (kalo ngga salah) Pengmas bekerjasama dengan CIMSA, namun kali pertama bagiku untuk ambil bagian dari penggabungan ini.
Bayangkan, dua proker, dua tujuan, dua rencana disatukan. Hal tersebut bisa terjadi karena diantara banyak perbedaan kita punya satu tujuan yang sama, dan bereslah semuanya. :)
Meski pasti ada konflik antar sesama panitia juga konflik sama batin sendiri.. hahahaha
Mengajariku bagaimana bereaksi terhadap suatu hambatan. Bahwa sebaiknya reaksi pertama yang dilakukan adalah menyelesaikannya bersama, bukan mempermasalahkan ini salah siapa.
Mengajariku bagaimana jika kita telah diikat dalam satu kepanitiaan, tidak ada lagi CIMSA dan Pengmas. Melainkan Panitia WAD FK UNAIR. Menjauhkan pikiran untuk menonjolkan organisasinya, tapi menonjolkan proker bersama.
Mengajariku ikhlas.
Mengajariku seni berteman. Seni memimpin. Seni bekerjasama..
Lalu saat Seminar berlangsung..
Semua narasumber benar-benar mengajariku banyak hal.
Dapat ilmu pengetahuan tentang virus HIV AIDS dan gejala pada penderitanya dari Prof Nasron (maaf ngga hapal gelarnya..)
Dan dr. Narni, I’ve been her fan since first semester :)
Beliau benar-benar inspiratif bagiku. Bahkan terkadang apa yang beliau ucapkan adalah apa yang telah lama kupikirkan. Dan kukira kami punya cara pandang yang sama dalam banyak hal. I think I wanna be like her someday :) Jadi perempuan harus kuat..
Lalu Mbak Y, Mbak M, dan Mas W.. Narasumber ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS)
Mereka mengajariku banyak hal tentang hidup.
Jujur aku malu jika mendengar kisah mereka dan melihat kenyataan bahwa mereka lebih semangat menjalani hidup daripada aku.. dan mereka lebih pandai bersyukur, lebih bisa memanfaatkan umur, dan tidak mudah mengeluh ketimbang aku..
“Orang kalau sakit itu trimo aja, kalau disuruh minum obat ya diminum. Disuruh priksa sama dokter ya priksa. Harus punya kemauan buat sembuh, bukannya sakit terus menyerah dan stress.”. Kesederhanaan pemikiran Mbak Y benar-benar menginspirasi.. bahwa terkadang untuk menyelesaikan suatu cobaan, kita hanya memerlukan sikap berpasrah.. sederhana bukan?..
“Lingkungan juga mengucilkan. Bahkan mau bikin KTP ke Pak RT pun tidak dilayani.. tapi saya sabar aja..”.
Mereka bertiga adalah para relawan yang merawat penderita AIDS di RSUD Dr. Soetomo. Mulai mengajak mereka periksa, menemani konseling, membimbing cara merawat diri, hingga mengurusi pasien rawat inap.
Mengajariku tentang ketulusan.. aku yang sehat walafiat, dan sedikit lebih punya bekal pengetahuan tentang kesehatan, belum tentu mau rela merawat penderita AIDS seperti yang beliau-beliau lakukan secara sukarela. :’(
Mbak M mengajariku tentang ketulusan juga.. ia bercerita tentang bagaimana ia bisa tertular HIV. Mbak M memang penyuka sesama jenis, namun ia tidak pernah gonta-ganti pasangan. Bahkan jarang bergaul keluar rumah. Suatu saat pasangannya tersebut meninggal tanpa sebab yang jelas. Dan beberapa waktu kemudian Mbak M dinyatakan positif HIV.
Sekarang Mbak M memiliki pasangan tetap yang tidak terinfeksi HIV.
Tanpa perasaan dendam karena pasangan sebelumnya telah ‘mewariskan’ virus tersebut padanya, Mbak M berstatement, “Saya menjaga pasangan saya agar tidak tertular. Karena dia telah menerima ODHA seperti saya apa adanya.” :)
Begitu pula dengan Mas W.. seorang mantan pengguna narkoba suntik dan kemudian terjangkit HIV AIDS. Ia menjelaskan bahwa ia memiliki istri dan anak yang sehat dan tidak tertular HIV. Ketika ditanya oleh salah satu peserta, bagaimana bisa dia punya anak dan istri yang tidak tertular HIV sedangkan ia sendiri adalah ODHA.. Mas W menjelaskan sebelum ia menikahi istrinya, dia benar-benar mengikuti semua konseling tentang bagaimana cara menjaga agar orang-orang sekitar tidak tertulari olehnya.
Kupikir, untuk hal seperti itu.. aku kalah dari segi ego, ketulusan, semangat, dan ketabahan mereka..
Semua orang bisa menjadi guru, tak peduli bagaimana ‘packaging’ status sosial mereka.
Kalian semua yang terlibat dalam acara WAD ini juga kuanggap guruku.. thanks for the lessons :D
Dan aku belajar bahwa memang benar..
Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Hihihi.. :P
maaf kepanjangan !
11 Desember 2010