Iya aku tahu perasaanmu. Ketika kamu mengalami masa-masa menyenangkan bersama seseorang, namun deep down kamu masih menyimpan andai-andai.. “Ah, andai yang sedang bersamaku adalah dia..”.

Aku tidak bisa merajuk kepadamu yang telah merasa seperti itu setiap bersamaku. Karena jujur saja, aku juga menyimpan angan sejenis itu. Terkadang bahkan kulihat wajahmu menyerupai wajahnya.. hihi..

Hanya saja aku berusaha menelan semuanya. Aku menghargaimu, menghargai kesenangan yang kamu timbulkan, menghargai momen-momen itu.

Karena kurasa kamu berhak atas itu. Dan juga karena aku tidak ingin menghabiskan stok mimpi untuk memimpikan hal-hal yang tak pernah diwujudkan olehnya. Ya, kurasa akan lebih indah jika aku mengalami hal-hal ini dengan seseorang di luar sana. Tapi, aku berbicara tentang fakta. Bahwa aku mendapatkan dirimu, bukan dirinya untuk saat ini. Bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku menunggu untuk dibahagiakan oleh seseorang. Aku ingin menerima kebahagiaan dari siapapun! Dan bahwa mungkin saja jikalau dialah yang ada di sini sekarang, tidak akan sebebas ini aku tertawa.. tidak akan sebebas ini aku bertingkah konyol.. dan tidak akan sebahagia jika bersama sahabatku.

Kita berlari, tertawa, bersenandung bersama. Namun juga ada sedetik ketika kita duduk berhadapan namun pikiran kita saling membayangkan bahwa yang dihadapan adalah dia yang sedang nun jauh di antah berantah.

Tidak apa.. kita masih muda. :) bagaimanapun juga masih ada sisa-sisa naif dan kenekatan menginginkan kebahagiaan yang terlalu spesifik. Maksudku.. kebahagiaan yang banyak syaratnya. “Aku baru bisa bahagia jika dia yang membahagiakanku.” dan sejenis lainnya.

Tapi, hey.. lihatlah aku. Aku jelas tidak berusaha menggantikan siapapun di hatimu. Namun yang jelas untuk saat ini aku ada untukmu. Berusaha menyenangkanmu dengan caraku yang sederhana namun nyata. Aku nggak kerepotan kok.. karena apa? karena menyenangkan sahabatku juga sebuah kebahagiaan sederhana namun nyata bagiku.

Halo Halo

Halo.. :) saya sekali-kali ingin membalas berondongan notes tentang arti sahabat yang kamu buat untuk saya. Terimakasih atas bantuannya malam ini..

SMS pertamamu, mengubah keresahan menjadi air mata. Lalu SMS keduamu, mengubah air mata menjadi tawa. :D

Saya tahu kita tidak sering bersama-sama.. kita punya sahabat-sahabat lain di luar sana, yang dengan cara mereka sendiri-sendiri bisa membuat kita bahagia. Kita toh jarang sekali misalnya jalan bareng di koridor, atau makan di kantin, atau ngobrol di saat kelas berlangsung, atau nonton bareng, yah kegiatan menyenangkan yang selalu kulakukan dengan sahabat-sahabatku yang cewek..

Tapi kamu punya caramu sendiri untuk membuat saya merasa seperti itu :) Merasa seperti apapun keadaannya saya akan selalu bisa mengandalkanmu. Di balik packagingmu yang serem, jahat, nggak banyak omong, dan kayak penculik anak.. hahaha.. :p

Sejak kali pertama ketemu, saat kamu dan mas adit nggak segan-segan membantuku menemukan poli paliatif, padahal saat itu kita bertiga belum kenal akrab.

Lalu, kejadian-kejadian aneh dan menyakitkan itu, saat terkadang kamu ‘melemparkan’ dirimu untuk disakiti demi saya. Alhamdulillah mereka sudah pergi :)

Sampai hal-hal kecil yang berlangsung hingga kini, sms-sms singkat penyemangat, doa-doa, oya barusan saya nemu kucing dalam karung pemberianmu, yang selalu ngeong pas kuliah.. hahaha..

You’re one of my besties, I can be sure. With your own way, you’ve become one of reasons for me to be happy.. Thankyouuuu..

Kangen

Kangen masa2 jahiliyah di SMA
Kangen MOS
Kangen nge-MOS
Kangen LDKS
Kangen nge-LDKS
Kangen anak2 sepuluh satu…
Kangen kelasnya yang di cat pink item… (idene wong gendeng)
Kangen main UNO trus treak2 UNOOO!!
Kangen main Bingo tapi bukan Bingo tapi SETIO. Kalo udah 5garis treaknya SETIOO!!!
Kangen tidur di bangku paling belakang
Kangen tidur di bangku paling depan
Kangen tidur di UKS dari jam pertama sampe istirahat kedua
Kangen tidur di sekos
Kangen tidur di masjid
Kangen tidur di mana saja
Kangen teh kotak
Kangen triak SATEE dari jendelanya A4
Kangen buka bersama pas pondram
Kangen bangkuku dieekin kucing
Kangen bikin mading mpe pulang malem
Kangen ngadain acara2 bersama anak2 OSIS
Kangen remidi kimia sampek elek
Kangen remidi sejarah sampek wuelek
Kangen remidi olahraga sampek matek
Kangen gak remidi bahasa indonesa (hohoho)
Kangen DPR
Kangen sekos sangat.. (kangen penunggunya jugag)
Kangen anak2 jurnalistik
Kangen anak2 mading
Kangen menginap di Deteksi dan PTC
Kangen kepanasan di P2 (Memed is the hero of that day..)
Kangen keujanan dan kepanasan jalan kaki ke PG dengan map penuh soal2 unas
Kangen setek2an panganan
Kangen setek2an topi pas arep upacara
Kangen setek2an kertas ulangan
Kangen kode2an pas unas ^^v
Kangen sabtu2 masuk intensif
Kangen guyon karo konco
Kangen tawur karo konco
Kangen guyon karo guru
Kangen tawur karo guru
Kangen dibilang cacad
Kangen dibilang limbad
Kangen dibilang autis
Kangen dibilang cantik..

(yang mau nambahin… kangen apa yah??)

15 Oktober 2009

Galleon Without Him

Akhirnya..
Saya bisa naik Galleon tanpa membicarakannya lebih dua kali.
Tanpa mengingatnya lebih dari dua kali.
Tanpa harus jadi gila dan menyetel lagu2 kematian sepulang naik Galleon.
Well.. tanpa menangis.. haha! :p

Padahal Galleon bisa dibilang merupakan ringkasan kenangan saya bersama sahabat saya, Arya, hingga kepergiannya 3tahun yang lalu.. Semua terjadi di atas situ.
Saya lupa kapan terakhir naik Galleon, yang pasti bersamanya.. ckckck..
Saya takut naik Galleon lagi karena takut dikalahkan oleh memori2 yang merusak otak itu.
Dan hari ini saya (entah kenapa) mencetuskan ide ingin naik Galleon itu bersama teman saya, Chuck.
Dan tidak terjadi apa2.. :D di atas Galleon.. well, saya ingat di kursi paling ujung ini saya biasa duduk bersama Arya. And no more.. saya menertawakan hal lain, membicarakan hal lain, bersama orang lain..
Saya merasa lebih baik..

Saya juga heran.
Lucu juga.. ketika saya berusaha keras melupakannya, malah menyakiti diri saya sendiri. Tapi kalo saya nggak ambil pusing tentang bagaimana cara untuk melupakan, malah lupa-lupa sendiri.

Nggak lupa juga sih.. saya akan tetap mengingatnya.. tapi gak harus jadi gila bila mengingatnya. Bagaimanapun dia sahabat terbaik saya. Bila anda mengenal saya dengan baik, maka anda tentunya pernah menemukan saya dalam masa-masa kelam sepeninggal Arya.. betapa saya susah payah untuk mengenangnya tanpa menangis. Dan kini mulai menampakkan hasiil.. :DD

Pelajaran yang dapat saya ambil..
Jangan tergantung pada manusia yang nggak kekal..
Duniaku isinya cuma Arya. Bisa dibilang kita autis bareng, merasa punya dunia sendiri (yang lain ngontrak, gak bayar kontrakan usir..) *wokeyy„ autis becomes my middle name.. huh! :(
Nggak punya teman dekat lain selain dia.. *sesuatu yang salah.

Tau rasanya? Analoginya seperti ini..
Saya memasang headset dan memperdengarkan sebuah lagu.. judulnya Arya..
Kalo nadanya riang saya joget2 sendiri.. kalo nadanya mellow saya sendu2 sendiri..
Dan suatu ketika, tanpa saya prediksi, lagu itu berhenti. Saya copot headset dan menemukan.. “ternyata dunia ini sepi, tadi rasanya rame hanya karena saya sibuk dengan lagu itu sendiri..”
dan menemukan orang-orang memandang aneh kepadaku.

Dan dunia dengan anehnya masih berputar.. padahal lagu saya sudah habis tapi dunia masih berputar.. Saya ternyata bukan pemeran utama dalam sebuah video clip. Yang bila dia merasa sedih maka seisi dunia akan ikut muram bersamanya.. *pemikiran yang bodoh.

Sepulang dari jalan2 bersama Chuck, saya masuk kamar dan berkata kepadanya (dimanapun dia berada) : Hey, you know? I did it! I can remember you without tears.. Sorry, it takes a long time.. thank you! Now I let you go (telat yah? Haha..)

The art of losing isn’t hard to master..
Life must go on..

Thanks :
*Chucky.. awas kon nek mbokdelete.. :(
*teman2 yang menemani saya di masa-masa kelam. Bersedia mendengarkan curhatan saya yang itu-itu saja.. tidak mengomentari isi mp3 hape saya yang cuma tentang kematian..(waktu dulu)

You’ve became my good reason to be happier..
Thank you.. :’)

20 Februari 2010

Hey, Look at Us

Untuk rekan seperjalananku..

Hey, look at us.. :)

Begitu jauh yang telah kita tempuh.
Dari dua orang yang begitu asing.
Hingga dua orang yang begitu dekat.

Dari salam basa-basi “Halo”
Hingga “ayo cabut mamen!”

Dari sms yang meski singkat namun perlu dipikirkan matang2 sebelum mengirimkan
Hingga sms tengah malam nggak penting

Dari panggilan resmi
Hingga panggilan “heh”, “oy”, “mamen”.

Pada saat awal perjumpaan kita.
Hey, lihat dirimu pagi itu.
Apa yang membuatmu berjalan mantap menemuiku bukannya orang lain?
Padahal aku hanya orang asing di lautan orang2 asing bagimu.
Aku pernah bertanya hal itu padamu dan kamu menjawab tidak tahu.
Apa yang membuatku mengkerut mengerdil seperti anak kecil ketika kamu menyapaku?
Padahal kamu orang asing yang cukup ramah.
Kamu pernah bertanya hal itu padaku dan aku menjawab tidak tahu.

Ini rahasia.
Aku selalu mendapat intuisi terhadap orang-orang yang baru kutemui.
Begitu menatap ke mata mereka.
Dan aku langsung tahu seberapa jauh mereka akan terlibat dalam hidupku selanjutnya.

Aku menatap sepasang mata milik orang asing.
Yang pagi itu berjalan lurus ke arahku.
Dan aku tahu perjalanan yang akan kita alami.
Dan aku takut.
Aku tidak siap menerima orang yang bakal terlibat sangat dalam di hidupku.

Aku setengah berharap kau hanya orang asing kebetulan lewat dan selamanya akan jadi orang asing.
Mungkin kita akan bertemu di lampu merah, atau tempat fotokopian, atau di antrean McDonald’s.
Aku setengah berharap kita tidak akan saling menyadari kehadiran satu sama lain.

Tapi aku juga setengah berharap bahwa kau mungkin benar-benar akan terlibat lama dalam hidupku.
Ketika aku melihat punggungmu menjauh, toh nyatanya aku memandang punggung itu lekat2.
Seakan2 aku tidak akan pernah menjumpai punggung sebagus itu.

Nyatanya tidak.
Aku bertemu lagi denganmu.
Apa kamu tidak menyadari bahwa kamu satu-satunya yang terkejut ketika ‘kebetulan’ kita bertemu lagi?

Aku tahu hal itu akan terjadi.
Ah, ini terlalu sering bila kau menyebutnya ‘kebetulan’.

Kita adalah dua makhluk yang diletakkan Tuhan pada 1 taman labirin.
Sebelumnya aku tersesat sendirian. Dan kau juga.
Namun di suatu titik aku bertabrakan denganmu.
Kau bilang ‘kebetulan’ ini harus kita jalani.
Kamu salah.
Kita punya pilihan.
Pilihan pertama, kita berpisah di percabangan labirin dan kembali tersesat sendirian.
Pilihan kedua, kita berjalan bersama mencari akhir dari labirin ini.
Kita telah memilih pilihan kedua.

Tapi kurasa kita tidak hanya berjuang menuju akhir labirin,
kita juga bersenang-senang dalam acara mbolang bersama dalam labirin yang ruwet ini.
Kita belajar dari satu sama lain.
Dan aku senang tersesat denganmu..

Hey, look at us.. :) :)
Look at me..
Aku bukan sebuah kebetulan dalam hidupmu.

Untuk semua orang yang pernah, sedang, atau akan terlibat dalam hidupku.
Kalian teman seperjalanan yang menyenangkan.. :p

2 Agustus 2010