my first lady :)

my first lady :)

First Lady

Mama adalah sosok yang biasa, manusiawi, sekaligus super, dan segalanya.

Dalam keluargaku, mama adalah lem perekat antara aku dan papa. Masalahnya, aku dan papa punya watak yang sama kerasnya, dan mama-lah yang menengahi kami.

Mama memang bukan tipe mama yang selalu di rumah. Wah, bakal stres mama kalau 24 jam di rumah tanpa pergi bekerja. Melihat pakaian kotor, piring kotor, dan anaknya yang kotor (badannya maksudnya) bergeletakan di mana-mana. Kan Mama pulang sore hari ketika rumah sudah dalam keadaan beres dan siap ditempati istirahat. Tapi aku paling suka ketika di sore hari, mendengar suara khas mama membuka pintu, meletakkan kunci bergemerincing di meja, dan bertanya, “Gita mana?”.

Mama tidak tahu porsi makanku, tidak tahu masakan dengan porsi bumbu yang pas yang kusukai, mama juga jarang memasak jika bukan hari libur atau hari spesial. Tapi Mama pernah bilang, “Kalau Mama nemu tempat makan yang enak, Mama selalu ingat Gita dan membatin, wah pasti Gita suka.” dan membawa pulang makanan kesukaanku itu.

Mama bukan Mama yang selalu menuruti langsung kemauanku. Terkadang aku sampai memohon-mohon tetapi Mama selalu bersikeras dengan pendapatnya bahwa keinginanku itu tidak harus dituruti. Contohnya, aku ingin memelihara kelinci. Mama melarangnya. Tapi, ketika suatu waktu Mama tiba-tiba mengajakku jalan-jalan ke Malang, Ternyata Mama sudah mengontak temannya yang ternak kelinci untuk membeli kelinci buatku.

Mama tidak tahu rasanya kuliah di kedokteran. Ketika aku mengeluh dan curhat tentang kuliahku, Mama terkadang tidak bisa memberi masukan yang realistis untuk seorang mahasiswa kedokteran yang sedang galau. Terkadang didengarkan oleh Mama pun juga sudah cukup melegakan bagiku. “Tenang saja. Semua akan baik-baik saja selama ada Mama..”, entah kenapa kalimat itu justru membuatku percaya, dibandingkan nasehat-nasehat dan masukan dari orang-orang yang ‘bernasib sama’ denganku.

Mama suka mengejek jiwa seniku yang aneh. Mama tidak suka rumah dicat warna warni apalagi sampai ada dinding yang dilukis. Tapi tetap saja Mama membelikan aku cat dinding warna-warni. Meski setiap masuk kamarku Mama selalu mengernyit tidak nyaman. Mama juga pernah mengejek lukisan abstrakku, tapi Mama malah memajangnya di dinding ruang tamu.

Mama, seperti kubilang di awal.. mama adalah sosok biasa dan manusiawi. Tapi super dan segalanya bagiku. Aku mencintainya secara utuh, sebagai manusia yang sempurna karena kelemahannya.

Itu Panggilan Akrabnya Suzanna, Nak..

Gita : Pa, mau sushi..
Papa : emang masih jaman susi?
Gita : ha? maksudnya?
Papa : emang gak takut ta liatnya?
Gita : aduh apa sih?
Papa : *mikir* oh, itu Suzanna ya..

Mama Kerjanya Ikhlas Gak Cari Uang

Pas masih kecil dan bego dan ngeyel...
Tetangga : Git, mama kemana?
Gita : mama kerja.
Tetangga : papa juga kerja ya?
Gita : enggak.. papa kan nggak kerja..
Tetangga : ohya?
Gita : papa nggak kerja.. tapi papa cari uang..
Tetangga : *buka kamus bahasa indonesia, cari bedanya kerja dan cari uang*

Bagai Menghitung Anak Ayam yang Belum Menetas

Pas masih kecil...
Mama : Gita kalo udah gede trus punya uang sendiri, uangnya dikasihin siapa?
Gita : kasihin Mama dong!
Mama : *senyumsenyum*
Gita : *mikirlama*
Gita : Ma, tapi Papa bagiin juga ya. jangan di pek sendiri..