Aku, Papa, dan Adhitia Sofyan

Seperti remaja labil lainnya, aku punya hobi yang menurut orangtua adalah kebiasaan buruk.

Berheadphone ria di tengah keramaian.

Aku baru saja membeli sebuah headphone super alay yang gede. Kalau dipasang teriakanku sendiri saja nggak bakal kedengeran.

Aku memakainya kapanpun waktu senggang.

Suatu pagi.

What a perfect morning with my alay headphone. :D

Nyawa baru loading 55%

Duduk nyaman di mobil, dapet tebengan dari papa yang juga mau brangkat ke kantor.

Hujan gerimis di luar sana

Jalanan sepi

Sarapan di tangan : setangkup roti tawar yang sudah dibuang kulitnya plus meses.

PBL menanti di kampus (yang ini nggak banget)

Headphone alay nemplok.

Adhitia Sofyan di telinga.

"If I could bottled the smell of the wet land after the rain

I’d make it a perfume and send it to your house

If one in a million stars suddenly will hit satellite

I’ll pick some pieces, they’ll be on your way”

Tiba-tiba Papa nyolek.

Kulepas headphoneku, pasang tampang merasa terganggu.

"Itu ada pelangi!" seru papaku.

"Oh iya.." gumamku dan memasang lagi headphoneku.

"In a far land across

You’re standing at the sea

Then the wind blows the scent

And that little star will there to guide me”

Papa nyolek lagi.

Tanpa kulepas headphoneku aku tanya “Apa??” nggak sengaja suaraku jadi keras gara2 headphone membuntu.

"Jalannya sepi ya.."

"Iya!"

Grrr…

Aku suka sekali berdiam diri, menjadi autis sejenak dengan musik di telingaku, memandang lewat jendela mobil jejalanan yang basah dan romantis. Eehh..papa malah mengusik momen kesukaanku.

Sudah hampir dekat kampus.

"If only I could find my way to the ocean

I’m already there with you

If somewhere down the line

We will never get to meet

I’ll always wait for you after the rain”

Papa menyentuh tanganku (sekali lagi).

Bener-bener deh!

Jalan sudah rame.

Pelanginya udah ilang gak tau kemana.

Mau nunjukin apa lagi sih?

Kucopot headphoneku dengan kesal.

"Dengerin musik bareng papa po’o..", Papa berkata pelan seakan takut menyinggungku.

"Nggak bakalan suka papa sama laguku.",

"Nggak papa.. di-loudspeaker aja."

"Kenapa sih? Udah mau nyampe kampus lho."

"Yaa dengerin sama-sama bentar..".

Ragu-ragu ku-loudspeaker hapeku.

Number One by Adhitia Sofyan.

Nggak bakalan papa ngerti musik beginian.

Mama pernah dengerin Adhitia Sofyan dan komentarnya : “Orang ini niat jadi penyanyi gak se? nyanyi kok irit-irit..” -____-’ pasti gak jauh beda sama selera papa.

"I don’t mind if you hate Monday

We can make this like a Saturday

And all the fuss and whine will over

As we drive in to the madness”

Sambil nyetir papa bener-bener dengerin laguku itu.

Aku memandanginya dengan heran.

Papa nyengir.

:’( permintaan sederhana papa itu bener-bener menohok.

Aku sadar, kami gak pernah duduk dan mendengarkan 1 lagu bersama-sama. Bener-bener jarang.

Biasanya aku yang bakal protes papa-lah yang selalu sibuk, gak punya waktu buat bersamaku.

Tapi kini aku sadari bahwa aku juga gak meluangkan waktu untuknya.

Dan bahwa sebenarnya Papa juga pengen duduk dan dengerin musikku. Apapun selera musikku.

Sudah sampai kampus.

Biasanya papa menurunkanku di tepi trotoar meski hujan-hujan. Biasanya aku dibiarin lari menembus hujan sampe ke tempat yang aman.

Tapi kali ini papa parkir ke dalam!

Mobil diparkirnya di belakang Berhala. Dan diam.

"With breakfast on the go

We’ll dine on city lights

Didn’t I tell you to just sit back

Cause my girl, they all don’t matter”

Benar-benar lupa kalo hari itu ada Pleno PBL. Bukannya buru-buru cari tempat atas biar bisa tidur„ aku malah diam di mobil bersama papa dan Adhitia Sofyan.

Papa bener-bener dengerin musikku.

"Cause you don’t even have to try

You’re already my number one

I don’t need the mellow tunes

And all the lines you’ve wasted over me”

Bahkan di baris ini pun papa berhasil mengikutinya (setelah beberapakali back to reff)

"Cause you don’t even have to try, you’re already my number one.."lantunnya pelan.

Dan saat itu aku memandang papaku sebagai orang lain.

Aku memandangnya sebagai pria. (lah biasanya juga pria sih..)

Papaku bukan dewa yang semua harus benar di mataku.

Papaku pria biasa.

Yang memang pemarah tapi juga pemaaf.

Yang memang gak romantis sama keluarga tapi siap tawur sama siapapun yang berani ganggu keluarganya.

Yang tukang kritik menyebalkan tapi siap menerimaku apa adanya.

Ya..

Mana pernah papa minta anak model aku, tapi tetap konklusinya papa menyayangiku seada-adanya.

Waktu itu aku hanya remaja labil (sekarang dewasa labil hahaha) yang banyak memikirkan hal gak penting hingga melewatkan hal yang benar-benar penting.

Yang lebih memilih kemana-mana pake headphone alay dengan lagu alay ketimbang ngobrol dan berbagi musik sama orang lain.

Yang sibuk bertanya2 “Oooh.. adakah di dunia ini pria yang mencintaikuapa adanyaa??..” ketimbang membuka mata dan menemukan papanya-lah pria itu.

Yang sibuk jadi remaja bego ketimbang belajar menjadi dewasa..

"I don’t mind if time goes too soon

We’ll stay up all night an make it slower

And when the morning comes between us

We’ll just get ready to start it over”

Waktu Pleno sudah mepet.

Mau nggak mau aku harus pamit..

"Pa„ doain aku nggak maju pleno ya."

"Ha? Kok minta gak maju sih?"

"Wes ta.. pokoknya jangan maju pleno kelompokku. Males.."

"Gimana se kamu? Bla3.."

"Haishh.."

"Hahaa.. ya sudah.. ati2 ya nak." *salim* yah.. itu mah kata2 standar kalo aku pamitan : ati2 ya nak..

Kubuka pintu mobil yang berembun.

Papa mengulurkan selembar tisu.

"Kacamatamu pasti ntar berembun kalo abis keluar dari AC.."

Itu bukan kata2 standar.. bahkan aku nggak mikirin sampe sana.. :) tapi papa memikirkannya.

Kuterima tisu itu. Dan benar.. kacamataku langsung berembun begitu keluar dari mobil yang ber-AC. Kugunakan tisu itu.

"Semoga nggak maju pleno, ya!.." seru papa dari dalam mobil.

Aku ketawa.

I don’t even have to try, I’m already his number one.. :)

17 Agustus 2010

Guru Kecil

Sejak papaku pindah tugas ke luar kota untuk mengurus suatu panti rehab cacat mental„

aku menjadi punya kesempatan lebih..

Untuk melihat dunia ini dari banyak sisi.

Untuk menjadi lebih cerdas dalam hal bersyukur dan menikmati hidup.

:)

Beberapa kali aku ikut ke panti itu..

Pertama kalinya, jujur aku takut.

Agresif, ribut, bahkan ada yang sudah berusia lebih tua dariku, bertubuh lebih besar dariku, namun tidak segan-segan memeluk bahkan mencium tangan.

Kedua kalinya aku ke sana pas H+ Ramadhan.

Di sana, ada beberapa anak yang tidak diketahui di mana keluarganya, sehingga saat Lebaran mereka tidak ada yang menjemput pulang.. :’(

We had a good time.

Ice cream party and danced and laughed and sang and many story they tried to tell me..

With their own language..

But somehow I understood :)

Ketika melihat mereka yang tetap ceria, tidak kehilangan masa kanak-kanak yang penuh kesenangan, bahkan ada yang sudah remaja namun tetap berjiwa anak-anak.. hehehe..

Sempat aku berpikir, mungkin nggak ya, mereka pernah bersedih?

Mereka nggak sadar bagaimana kondisi mereka, yang tinggal di panti bersama teman-teman asing, pengasuh-pengasuh asing.. tanpa sanak saudara.. bahkan saat lebaran pun, ketika mayoritas teman-teman panti banyak yang dijemput pulang oleh orangtua masing-masing, mereka tetap berada di sana.

Menjalani rutinitas seperti biasa.

Padahal jujur saja, saat itu aku agak nggondok gara-gara nggak pulang kampung pas lebaran :(

Banyak yang mengaku jatuh kasihan kepada mereka..

Tetapi aku sebaliknya.. God bless them..

Aku belajar dari mereka bahwa tidak perlu banyak syarat untuk segera mensyukuri hidup ini.

Bahwa berpasrah adalah jalan keluar terbaik dari semua kegelisahan.

Bahwa aku harus lebih banyak tersenyum dan tertawa dan menari dan menyanyi dan menikmati hidup.

Bahwa aku akan berbahagia demi diriku sendiri.

Dan berhenti mencari-cari alasan untuk mengutuk diri sendiri maupun orang lain.

The most I love is their eyes..

So full of life, so happy like never get hurt before, so blessed.. :)

Thanks for my super little heroes.. keep shining! :D

*ayoo kapan2 main ke sana.. :))

13 November 2010

What the WAD

Acara WAD kali ini benar-benar mengajariku banyak hal.. :)

Pertama.. kerja keras. Kalau itu nothing special.. aku sudah mengikuti beberapa kepanitiaan sebelumnya dan pelajaran tentang kerja keras dan loyalitas telah kupetik sebelum-sebelumnya.

Kedua.. menyatukan banyak pihak dan tidak menjadi egois. Ini kali kedua (kalo ngga salah) Pengmas bekerjasama dengan CIMSA, namun kali pertama bagiku untuk ambil bagian dari penggabungan ini.

Bayangkan, dua proker, dua tujuan, dua rencana disatukan. Hal tersebut bisa terjadi karena diantara banyak perbedaan kita punya satu tujuan yang sama, dan bereslah semuanya. :)

Meski pasti ada konflik antar sesama panitia juga konflik sama batin sendiri.. hahahaha

Mengajariku bagaimana bereaksi terhadap suatu hambatan. Bahwa sebaiknya reaksi pertama yang dilakukan adalah menyelesaikannya bersama, bukan mempermasalahkan ini salah siapa.

Mengajariku bagaimana jika kita telah diikat dalam satu kepanitiaan, tidak ada lagi CIMSA dan Pengmas. Melainkan Panitia WAD FK UNAIR. Menjauhkan pikiran untuk menonjolkan organisasinya, tapi menonjolkan proker bersama.

Mengajariku ikhlas.

Mengajariku seni berteman. Seni memimpin. Seni bekerjasama..

Lalu saat Seminar berlangsung..

Semua narasumber benar-benar mengajariku banyak hal.

Dapat ilmu pengetahuan tentang virus HIV AIDS dan gejala pada penderitanya dari Prof Nasron (maaf ngga hapal gelarnya..)

Dan dr. Narni, I’ve been her fan since first semester :)

Beliau benar-benar inspiratif bagiku. Bahkan terkadang apa yang beliau ucapkan adalah apa yang telah lama kupikirkan. Dan kukira kami punya cara pandang yang sama dalam banyak hal. I think I wanna be like her someday :) Jadi perempuan harus kuat..

Lalu Mbak Y, Mbak M, dan Mas W.. Narasumber ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS)

Mereka mengajariku banyak hal tentang hidup.

Jujur aku malu jika mendengar kisah mereka dan melihat kenyataan bahwa mereka lebih semangat menjalani hidup daripada aku.. dan mereka lebih pandai bersyukur, lebih bisa memanfaatkan umur, dan tidak mudah mengeluh ketimbang aku..

“Orang kalau sakit itu trimo aja, kalau disuruh minum obat ya diminum. Disuruh priksa sama dokter ya priksa. Harus punya kemauan buat sembuh, bukannya sakit terus menyerah dan stress.”. Kesederhanaan pemikiran Mbak Y benar-benar menginspirasi.. bahwa terkadang untuk menyelesaikan suatu cobaan, kita hanya memerlukan sikap berpasrah.. sederhana bukan?..

“Lingkungan juga mengucilkan. Bahkan mau bikin KTP ke Pak RT pun tidak dilayani.. tapi saya sabar aja..”.

Mereka bertiga adalah para relawan yang merawat penderita AIDS di RSUD Dr. Soetomo. Mulai mengajak mereka periksa, menemani konseling, membimbing cara merawat diri, hingga mengurusi pasien rawat inap.

Mengajariku tentang ketulusan.. aku yang sehat walafiat, dan sedikit lebih punya bekal pengetahuan tentang kesehatan, belum tentu mau rela merawat penderita AIDS seperti yang beliau-beliau lakukan secara sukarela. :’(

Mbak M mengajariku tentang ketulusan juga.. ia bercerita tentang bagaimana ia bisa tertular HIV. Mbak M memang penyuka sesama jenis, namun ia tidak pernah gonta-ganti pasangan. Bahkan jarang bergaul keluar rumah. Suatu saat pasangannya tersebut meninggal tanpa sebab yang jelas. Dan beberapa waktu kemudian Mbak M dinyatakan positif HIV.

Sekarang Mbak M memiliki pasangan tetap yang tidak terinfeksi HIV.

Tanpa perasaan dendam karena pasangan sebelumnya telah ‘mewariskan’ virus tersebut padanya, Mbak M berstatement,  “Saya menjaga pasangan saya agar tidak tertular. Karena dia telah menerima ODHA seperti saya apa adanya.” :)

Begitu pula dengan Mas W.. seorang mantan pengguna narkoba suntik dan kemudian terjangkit HIV AIDS. Ia menjelaskan bahwa ia memiliki istri dan anak yang sehat dan tidak tertular HIV. Ketika ditanya oleh salah satu peserta, bagaimana bisa dia punya anak dan istri yang tidak tertular HIV sedangkan ia sendiri adalah ODHA.. Mas W menjelaskan sebelum ia menikahi istrinya, dia benar-benar mengikuti semua konseling tentang bagaimana cara menjaga agar orang-orang sekitar tidak tertulari olehnya.

Kupikir, untuk hal seperti itu.. aku kalah dari segi ego, ketulusan, semangat, dan ketabahan mereka..

Semua orang bisa menjadi guru, tak peduli bagaimana ‘packaging’ status sosial mereka.

Kalian semua yang terlibat dalam acara WAD ini juga kuanggap guruku.. thanks for the lessons :D

Dan aku belajar bahwa memang benar..

Terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.

Hihihi.. :P

maaf kepanjangan !

11 Desember 2010

That Genre

Saya sedang suka-sukanya film romantis ketika salah seorang teman saya akhirnya membuat saya ilfeel.

Yah sebut saja insialnya BIB. *saya nggak menyebut namamu lho ya..

Menurutnya, film yang paling gahul adalah film tentang buronan yang sembunyi di tanki berisi feses..

Kata bib,“Haduh sama ae semuanya. Mau pergi ciuman. Mulih ciuman. Makan ciuman. Ng*s*ng ciuman.” Intinya ciuman menjadi salah satu kegiatan metabolisme manusia jaman sekarang.

“gara2 drama korea yang super romantis, cewek-cewek jadi terlalu berharap ketemu cowok super romantis. Kasian juga cowok2 cupu model kamu ya..” haha. Peace bib.

Gara2 dia, saya jadi menilik ulang tontonan saya selama ini.

Baruu saja beberapa bulan ini saya mencoba menyukai film cintak-cintakan.

Dan bagus, saya tidak memungkiri bahwa saya menikmati.

Hanya saja, saya tidak mengerti apa yang terjadi dengan mereka..

Kok orang-orang dalam film itu terkesan murahan, ya?

Terkesan bodoh..

Terkesan gila..

Ada yang rela melepas harta demi kekasih.

Meninggalkan keluarga.

Bunuh diri.

Menyeberang samudera.

Menjadi orang lain selain dirinya.

Dan ini yang paling sering jadi adegan film-film barat : mempelai cewek nekat ninggalin calon suaminya di depan altar, trus lari-lari pake gaun pengantin ke rumah cowok simpanannya.

Grrrr…

Just by one kiss and everything can change.

They’re all cheap lovers, I think.

Misalnya..

Seorang cewek yang bertunangan, ketemu cowok yang tidak dia sukai. Lalu mereka ketemu, ketemu lagi, trus nggak sengaja ciuman (heran deh), trus mata mereka berkaca-kaca, mencoba untuk menyangkal perasaan, berpisah, marah2an, trus pas ceweknya udah pake gaun pengantin cowoknya nyulik ceweknya untuk kabur dari altar.

Bahkan mungkin inti cerita-cerita tersebut adalah : bertindaklah nekat dan gila demi cinta.

Nggak ngerti..

Tapi mana mungkin para sutradara bisa bikin film tanpa terinspirasi kisah nyata?

Jadi apa benar?

Apa benar cinta bisa mengakibatkanku jadi sebodoh itu nantinya?

:-/

I think, it was us, bib. Who can’t understand yet about love.

Just one or two chats with love topic, can’t change us into a genius lover.

You must have one of those stories to understand.

And then you will be free to judge.

It’s the general rule of anything, isn’t it?

Yeah.. what’s love? Sounds boring.

No.. it sounds complicated for me. But not boring, buddy! :P

*sana tonton KCB dulu! haha..

15 Desember 2010

Run Into You

Sejak hari itu, aku tidak akan takut ketika tersesat :) Bagaimana bingung dan pesimisnya aku ketika terpisah darimu di keramaian itu. Aku duduk lunglai di salah satu bangku taman, dan terkejut mendapati kamu pun sedang duduk di ujung bangku yang sama—dengan wajah bingung juga. Yang kita perlukan adalah beberapa waktu untuk menunggu orang-orang di antara kita untuk pergi. Dan aku baru bisa melihatmu di ujungnya. Tuhan selalu memangku kepasrahan dan menggantikannya dengan kemujuran :) Kamu ingat bagaimana pertama kita bertemu dulu? Kau membelah kerumunan dan menemukanku duduk di ujung keramaian. Ya, kamulah yang menyeruak demi menemukanku. Bukankah selalu demikian, selama ini? Kurang adil memang. Kamulah yang selalu jadi tukang khawatir ketika aku tersesat Kamulah yang pergi mencari jalan kepadaku Kamulah yang menungguku Lalu kamu berhenti berjuang Berhenti mencariku Dan disinilah kita, menertawakan semua kebetulan dengan perasaan lega yang teramat sangat Aku menyadari bahwa aku tidak akan takut lagi kehilanganmu. Kamu dan aku, kita sama-sama kepunyaan Tuhan. Dan Dia telah bermurah hati, meletakkan kita pada labirin yang sama. Sewaktu itu, kamu memutuskan untuk berjalan sendiri di lorong yang berbeda. Tapi bagaimanapun juga, kita sama-sama dilingkarkan pada kumparan raksasa bernama dunia. Ketika kumparan membuat kita terpelanting dan menabrak satu sama lain di suatu titik, Betapapun jauhnya kamu pergi dariku, Kita bisa duduk di bangku yang sama tanpa disengaja. Meski orang-orang yang duduk di tengah-tengah kita sempat mengaburkan pandangan. Jika kamu ingin mengembara, akulah yang akan mencari jalan kepadamu. Jika aku tersesat (aku selalu tersesat), kamulah yang akan mencari jalan kepadaku. Jika bukan kita, maka Tuhanlah yang akan melakukannya. :) Dengan cara yang lebih indah dari apapun. Ya, seperti peristiwa itu..